Jumat, 17 Mei 2013

Keikhlasan dalam Beribadah



 Ikhlas dalam Beribadah
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran. Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”(Az-Zumar: 2).
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hamba dalam beramal, agar amalnya diterima oleh Allah, adalah ikhlas. Apa yang dimaksud dengan ikhlas? Bagaimana kita dapat melatih diri kita agar senantiasa ikhlas dalam beramal? Kiranya pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk kita ketahui jawabannya agar amal-amal kita dapat memenuhi syarat untuk diterima oleh Allah. Oleh karena itu marilah kita mencoba mencari jawabannya dari madrasah keikhlasan para tabi’in yang, sebagaimana rasul kita sabdakan, merupakan generasi terbaik setelah shahabat.
Definisi Ikhlas

Ikhlas, sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in yang bernama Al-Junaid, adalah “Rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui malaikat sehingga menulisnya, atau setan sehingga merusaknya, dan juga hawa nafsu sehingga mengganggunya.”
Atau sebagaimana dikatakan Ruaim bin Ahmad, “Ikhlas adalah engkau tidak menengok apa yang telah engkau kerjakan.”
Sedangkan, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ikhlas yaitu memurnikan amalan dari perhatian makhluk, dan menjauhkannya dari perhatian makhluk bahkan dari dirinya sendiri. Barangsiapa menganggap amalannya telah ikhlas, maka keikhlasannya perlu keikhlasan lagi. Dikatakan pula bahwa ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dengan selalu mencari perhatian Sang Khalik.”
Madrasah Tabi’in

Para salafus saleh adalah madrasah keikhlasan. Dari mereka kita bisa belajar dan menempa diri. Berikut akan penulis paparkan beberapa contoh tabi’in menjaga keikhlasannya dalam beramal
A. Ibrahim bin Adham dalam Menjauhi Popularitas

Ibrahim bin Adham pernah berkata, “Tidaklah seorang hamba jujur kepada Allah selama ia masih suka popularitas.”
Ibnul Jauzi berkisah tentang Ibrahim bin Adham, “Ibrahim bin Adham adalah seorang yang terkeal di suatu daerah. Suatu ketika, ada sekelompok orang mencarinya dan ditunjukkan bahwa ia berada di kebun Fulan. Mereka pun berkeliling sambil mencarinya di kebun tersebut sambil berteriak, “Dimanakah Ibrahim bin Adham? Dimanakah Ibrahim bin Adham? Dimanakah Ibrahim bin Adham?” Beliau (Ibrahim bin Adham) pun ikut berkeliling sambil berteriak, “Dimanakah Ibrahim bin Adham?”
Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Ibrahim bin Adham adalah orang yang suka merahasiakan amalnya. Tidak pernah aku melihatnya menampakkan tasbih atau kebaikan sedikit pun.”
B. Abdullah bin Mubarak dalam Menyembunyikan Amal

Abdah bin Sulaiman mengisahkan, “Aku pernah bersama Abdullah bin Mubarak dalam sebuah peperangan di dareah Romawi, dan kami bertemu dengan musuh. Ketika kedua pasukan berhadap-hadapan, keluarlah seseorang dari barisan musuh menantang duel. Maka keluarlah salah seorang dari kami. Dalam beberapa saat saja dia berhasil mengalahkan musuh, menikam, dan membunuhnya. Kemudian keluar lagi satu dari mereka dan dia berhasil membunuhnya. Kemudian datang lagi yang lain dan dia berhasil lagi membunuhnya.
Orang-orang pun berkerumun di sekeliling laki-laki tersebut dan aku termasuk salah seorang dari mereka. Namun, tiba-tiba lelaki tersebut menutupi mukanya dengan lengan bajunya. Maka aku memegang ujung lengan bajunya dan menariknya. Ternyata laki-laki tersebut adalah Abdullah bin Mubarak. Maka ia berkata, ‘Dan engkau, wahai Abu Amru, termasuk orang yang menjelekkaknku’.
Marilah kita renungkan ucapan beliau di atas. Beliau menganggap kalau amalnya dilihat orang adalah suatu kejelekan padahal beliau telah berusaha keras menyembunyikannya.
C. Menyembunyikan Ibadah dengan Menampakkan Aktivitas Lain

Ini adalah cara lain untuk dapat menjaga keikhlasan kita dalam beramal. Yaitu dengan menampakkan aktivitas lain setelah mengerjakan suatu ibadah untuk lebih menyembunyikan amalnya. Abu Tamim bin Malik mengisahkan:
“Adalah Mansur bin Al-Mu’tamir, apabila shalat subuh ia menampakkan kebugaran kepada sahabat-sahabatnya (seakan-akan baru bangun tidur). Ia berbicara dengan mereka dan bolak-balik kepada mereka, padahal semalaman ia bangun untuk mendirikan shalat. Ia lakukan semua itu untuk menyembunyikan apa yang telah ia kerjakan.”
Begitu pula Abu Ayyub as-Sakhtiyani, beliau bangun shalat semalaman kemudian menyembunyikannya. Apabila datang waktu subuh, beliau mengangkat suaranya seakan-akan baru bangun.
Para tabi’in mengajarkan keikhlasan bukan hanya kepada diri mereka sendiri, tetapi juga kepada para pengikut mereka. Sebagai contoh, Raja’ bin Haiwah ketika melihat salah seorang dari muridnya mengantuk setelah subuh, beliau mengingatkannya, ‘Hati-hati, jangan sampai mereka mengira kalau ini karena pengaruh bangun malam’.
Demikianlah beberapa contoh kisah dari tokoh-tokoh tabi’in dalam menyembunyikan amal-amal mereka. Mereka melakukan hal ini tidak lain hanyalah untuk dapat menjaga keikhlasan mereka dalam beramal. Sebagai penutup, ada sebuah nasihat yang ditulis As-Samarqandy dalam bukunya Tanhibul Ghaifilin, “Belajarlah keikhlasan dari penggembala kambing.apabila ia shalat di sekitar kambing-kambingnya, ia tidak mengharapkan pujian dari kambingnya. Begitu pula hendaknya seseorang dalam beramal. Jangan peduli dengan orang-orang yang melihatnya, sehingga selalu beramal ikhlas karena Allah. Baik ketika bersama manusia maupun ketika sendiri, semua sama saja, dan tidak mengharapkan pujian dari manusia.
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in karangan Asyraf Hasan Thabal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar